KabarIndonesia.id — Keripik kaca sering menjadi camilan favorit di berbagai kalangan, namun di balik sensasi kriuk yang bikin nagih, camilan berbahan dasar tepung tapioka ini menyimpan sejumlah risiko kesehatan jika dikonsumsi berlebihan.
Keripik kaca memang bukan “kaca” asli. Camilan ini dibuat dari tepung tapioka atau pati singkong yang diolah hingga transparan, lalu digoreng dalam minyak panas sampai mengembang dan renyah.
Teksturnya yang unik membuat keripik kaca digemari, terutama dengan tambahan bumbu pedas atau gurih. Meski begitu, camilan ini bukan tanpa catatan kesehatan.
Tinggi Kalori dan Lemak
Proses penggorengan membuat keripik kaca menyerap minyak dalam jumlah besar. Akibatnya, kandungan kalori dan lemak, terutama lemak jenuh, menjadi cukup tinggi. Jika dikonsumsi berlebihan, makanan tinggi kalori dan lemak dapat meningkatkan risiko obesitas, penyakit jantung, serta peningkatan kolesterol LDL atau kolesterol “jahat”.
Berisiko Mengganggu Pencernaan
Sejumlah orang melaporkan keluhan setelah mengonsumsi keripik kaca, mulai dari perut kembung, nyeri perut, mual, muntah, hingga diare. Kondisi ini diduga berkaitan dengan tingginya kandungan minyak serta penggunaan bumbu pedas dan penyedap rasa yang berlebihan.
Garam dan Penyedap Berlebih
Keripik kaca hampir selalu disajikan dengan taburan garam, cabai, dan penyedap rasa seperti MSG. Asupan garam dan MSG yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan gangguan kesehatan jantung. Idealnya, konsumsi garam dibatasi kurang dari 5 gram per hari.
Kualitas Produk Tak Selalu Seragam
Banyak keripik kaca diproduksi secara rumahan, sehingga kualitas dan kebersihannya bisa sangat bervariasi. Tanpa standar produksi yang jelas, risiko penggunaan bahan berkualitas rendah atau proses yang kurang higienis menjadi lebih besar dan berpotensi memicu masalah kesehatan.
Tips Menikmati Keripik Kaca Lebih Aman
Bagi pencinta keripik kaca, camilan ini masih bisa dinikmati dengan cara yang lebih bijak. Pilih produk dari merek terpercaya yang memiliki izin edar BPOM. Perhatikan informasi gizi, terutama kandungan garam, lemak, dan gula. Batasi porsi dan jadikan keripik kaca sebagai camilan sesekali, bukan konsumsi harian.
Alternatif lain, keripik kaca bisa dibuat sendiri di rumah agar bahan dan prosesnya lebih terkontrol. Mengolahnya dengan cara dipanggang atau menggunakan oven dapat membantu mengurangi kandungan lemak dibandingkan menggoreng.
Keripik kaca bukan camilan berbahaya, tetapi juga bukan pilihan paling sehat jika dikonsumsi tanpa batas. Kandungan kalori, lemak, garam, serta kualitas produk yang tidak selalu terjamin menjadi alasan untuk lebih bijak.












