KabarKesehatan.com — Sirup maple kerap disebut sebagai pemanis alami yang lebih sehat dibandingkan gula pasir putih.
Proses pengolahannya yang minim membuat sirup ini dianggap masih menyimpan berbagai nutrisi penting. Namun, benarkah sirup maple sepenuhnya aman dikonsumsi tanpa batas?
Sirup maple berasal dari getah pohon maple gula (Acer saccharum) yang direbus hingga mengental dan membentuk cairan pekat.
Karena tidak melalui proses pemurnian intensif seperti gula putih, sirup maple mempertahankan sebagian kandungan mineral, vitamin, dan antioksidan alaminya.
Meski begitu, kandungan gulanya tetap tinggi sehingga konsumsinya perlu dibatasi.
Kandungan Nutrisi Sirup Maple
Berbeda dengan gula pasir putih yang kehilangan hampir seluruh nutrisinya akibat proses pengolahan, sirup maple tergolong produk yang tidak dimurnikan. Hal ini membuatnya masih menyimpan sejumlah zat gizi yang bermanfaat bagi tubuh.
Sirup maple mengandung gula dalam bentuk sukrosa, sama seperti gula putih. Namun, komposisi nutrisinya membuat respon tubuh terhadap sirup maple bisa sedikit berbeda, terutama dalam kaitannya dengan kadar gula darah.
Bandingkan dengan Gula Putih
Dalam takaran yang sama, sirup maple memiliki kandungan gula dan karbohidrat yang lebih rendah dibandingkan gula pasir.
Dalam 100 gram sirup maple, terkandung sekitar 67 gram karbohidrat dan 58,3 gram sukrosa. Sebagai perbandingan, 100 gram gula putih mengandung 99,6 gram karbohidrat dan 99,8 gram sukrosa.
Perbedaan ini membuat sirup maple kerap dianggap sebagai alternatif pemanis bagi mereka yang ingin mengurangi asupan gula tambahan atau menjalani pola makan rendah karbohidrat.
Mengandung Vitamin dan Mineral
Keunggulan lain sirup maple terletak pada kandungan vitamin dan mineralnya. Satu sendok makan atau sekitar 20 gram sirup maple dapat menyediakan hampir 25 persen Angka Kecukupan Gizi (AKG) mangan dan sekitar 20 persen AKG vitamin B2.
Sebaliknya, gula putih tidak mengandung vitamin B2 dan hanya memiliki kandungan mangan yang sangat kecil.
Selain itu, sirup maple juga mengandung mineral lain seperti seng, kalsium, dan kalium, meski dalam jumlah terbatas. Kandungan mineral tersebut hampir tidak ditemukan di gula pasir.
Kaya Antioksidan
Sirup maple juga dikenal mengandung puluhan senyawa antioksidan, termasuk polifenol seperti asam fenolik, flavonoid, dan quebecol.
Antioksidan berperan dalam membantu melawan stres oksidatif yang dapat merusak sel tubuh dan berkontribusi pada risiko penyakit kronis seperti kanker dan penyakit kardiovaskular.
Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health menyebutkan bahwa sirup maple memiliki profil kimia dan nutrisi yang berpotensi memberikan dampak positif bagi kesehatan (Saraiva A, Carrascosa C, Ramos F, Raheem D, Lopes M, Raposo A. 2022).
Umumnya, sirup maple berwarna gelap dilaporkan mengandung antioksidan lebih tinggi dibandingkan varietas berwarna terang. Sementara itu, gula putih hampir tidak mengandung antioksidan.
Potensi Manfaat untuk Kesehatan Usus
Penelitian juga mengidentifikasi adanya serat prebiotik bernama inulin dalam sirup maple. Inulin berperan sebagai makanan bagi bakteri baik di saluran pencernaan dan membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus.
Gula putih tidak mengandung inulin. Meski demikian, penelitian terkait manfaat inulin dalam sirup maple masih terbatas dan sebagian besar berukuran kecil, sehingga diperlukan kajian lanjutan untuk memastikan dampaknya terhadap kesehatan usus secara menyeluruh.
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa konsumsi gula berlebihan justru dapat meningkatkan jumlah bakteri usus yang merugikan dan berdampak buruk bagi kesehatan pencernaan.
Kesimpulan
Meski sirup maple menawarkan kandungan nutrisi dan antioksidan yang tidak dimiliki gula putih, pada dasarnya pemanis ini tetap tergolong gula tambahan berbasis sukrosa. Artinya, sirup maple tetap perlu dikonsumsi secara bijak.
Dalam pola makan seimbang, asupan gula tambahan yang direkomendasikan adalah maksimal 50 gram per hari, atau setara 200 kalori dalam diet 2.000 kalori. Sirup maple bisa menjadi alternatif yang lebih bernutrisi, tetapi tidak berarti bebas risiko jika dikonsumsi berlebihan.












