Diabetes Tipe 2 Ancam Generasi Muda, Wamenkes Soroti Gaya Hidup Remaja

Diabetes Tipe 2 Ancam Generasi Muda, Wamenkes Soroti Gaya Hidup Remaja
kasus diabetes tipe 2 kini mulai menyerang remaja hingga anak SMP (Dok : Int).

KabarKesehatan.com — Diabetes tipe 2 yang selama ini dikenal sebagai penyakit kelompok usia dewasa dan lanjut usia kini mulai menyerang generasi muda. Bahkan, kasus penyakit metabolik tersebut telah ditemukan pada remaja hingga anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP), seiring perubahan pola hidup yang semakin tidak sehat.

Fenomena tersebut menjadi perhatian serius Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Dante Saksono Harbuwono. Ia mengungkapkan tren peningkatan kasus diabetes tipe 2 pada usia muda yang dinilai mengkhawatirkan.

“Dulu diabetes tipe 2 identik dengan usia 40 atau 50 tahun ke atas. Tetapi hari ini dan ini yang membuat saya tidak bisa tenang sebagai seorang dokter kita mulai melihatnya muncul pada remaja, bahkan beberapa kasus pada anak usia SMP,” ungkap Wamenkes Dante, dikutip Sabtu (31/5/2026).

Menurutnya, perubahan pola penyakit tersebut tidak hanya dipengaruhi faktor keturunan atau genetik. Gaya hidup modern yang minim aktivitas fisik menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya risiko diabetes tipe 2 pada generasi muda.

Wamenkes menyoroti tingginya durasi penggunaan gawai atau screen time, kurangnya waktu tidur, konsumsi makanan tinggi gula dan makanan ultra-proses, hingga tekanan mental yang dihadapi remaja saat ini sebagai faktor yang mempercepat munculnya penyakit tersebut.

Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan karena diabetes tipe 2 pada remaja cenderung berkembang lebih agresif dibandingkan pada orang dewasa. Jika tidak ditangani sejak dini, penyakit ini dapat meningkatkan risiko komplikasi kesehatan dalam jangka panjang.

Karena itu, Dante menegaskan bahwa upaya pencegahan harus dimulai dari lingkungan keluarga melalui perubahan kebiasaan sehari-hari yang lebih sehat.

“Ini bukan untuk menakut-nakuti. Pencegahan harus dimulai sekarang. Makan bersama, tidur cukup, mengurangi waktu di depan layar, dan aktif bergerak bersama keluarga,” tegasnya.

Sebagai contoh, Dante membagikan pengalamannya mendaki Gunung Ciremai bersama putranya sebagai salah satu cara menjaga kebugaran tubuh sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap perangkat digital.

Pemerintah Perkuat Deteksi Dini

Untuk mengantisipasi peningkatan kasus penyakit tidak menular pada anak dan remaja, pemerintah telah menjalankan sejumlah program kesehatan preventif. Salah satunya melalui program Cek Kesehatan Gratis yang menyasar sekitar 25 juta pelajar di Indonesia.

Selain itu, Kementerian Kesehatan juga mulai menerapkan program “nutri-level”, yaitu sistem pelabelan makanan dan minuman dengan kategori A hingga D yang bertujuan memberikan informasi kepada masyarakat mengenai kandungan gula dalam produk yang dikonsumsi.

Dari hasil pemeriksaan kesehatan yang dilakukan di berbagai sekolah, pemerintah menemukan sejumlah masalah kesehatan yang mulai muncul pada usia remaja, mulai dari hipertensi, anemia, hingga gangguan kesehatan gigi.

Temuan tersebut menjadi sinyal bahwa perubahan gaya hidup sehat perlu dilakukan sejak usia dini untuk mencegah munculnya penyakit kronis di masa depan.

Wamenkes Dante mengingatkan bahwa kesehatan merupakan fondasi utama dalam meraih cita-cita dan kesuksesan hidup.

“Tubuh adalah modal pertama dari semua cita-cita yang ingin dicapai. Kesehatan bukan tujuan akhir, melainkan cara kita menjalani hidup yang bermakna,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *